Saya sengaja tidak pernah mau menjawab secara gamblang pertanyaan
teman-teman mahasiswa baru mengenai "Bagaimana caranya bisa mendapatkan
beasiswa ke luar negeri dan mengikuti berbagai kegiatan sehingga bisa
keliling ke beberapa daerah di Indonesia". Saya lebih suka ditanya
mengenai proses yang saya tempuh sebelum saya mendapatkannya, dan
terkadang pertanyaan mereka pun saya belokkan sehingga jawaban saya
lebih banyak berbicara mengenai proses.
Mendapatkan beasiswa ke
luar negeri dan mengikuti kegiatan-kegiatan nasional di berbagai daerah
di seluruh Indonesia bukanlah sesuatu yang bisa diraih dengan satu dua
hari proses. Proses tersebut tidak terlalu sulit untuk dilewati, tapi
juga tidak terlalu mudah untuk dilakukan. Terkadang kita tidak ingin
berproses dan hanya ingin sesuatu yang instan, sehingga kerap kali
bertanya sesuatu yang langsung to the point "bagaimana caranya" atau
"apa tipsnya". Seringkali pertanyaan tersebut saya jawab simpel "caranya
adalah mendaftarkan diri". Ya, simpel. Cuma mendaftarkan diri untuk
mendapatkan beasiswa tersebut. Namun proses untuk mendapatkannya tidak
sesimpel itu.
Beasiswa ke luar negeri adalah suatu raihan yang
prestisius namun tidak gratis alias ada harganya. Ya, ada harganya.
Harga disini bukanlah sesuatu yang berbentuk materi atau uang. Yang
dimaksud harga disini adalah semangat, keberanian dan pengorbanan.
Semangat untuk selalu berusaha memperbaiki diri, berani untuk
mendaftarkan diri, berani untuk berbeda, berani untuk ditertawakan
karena cita-cita yang begitu tinggi, serta pengorbanan akan waktu,
tenaga, dan pikiran. Di saat orang lain menghabiskan waktunya untuk
foya-foya, jalan-jalan, nongkrong, main game, atau berpacaran, kita
harus berani mengorbankan waktu kita yang berharga untuk membaca buku,
berdiskusi, meningkatkan kemampuan bahasa asing, meningkatkan kemampuan
menulis, mengikuti kegiatan-kegiatan positif, berorganisasi, mencari
informasi beasiswa, dan mendaftarkan diri di setiap kesempatan beasiswa
yang ditawarkan.
Pejuang beasiswa juga harus memiliki semangat
tinggi dan pantang menyerah. Pantang menyerah ketika gagal meraih
beasiswa ke luar negeri dalam kesempatan pertama, kedua, dan ketiga.
Persaingan untuk mendapat beasiswa ke luar negeri itu cukup sengit,
kadang-kadang kuota yang ditawarkan tidak sebanding dengan jumlah
pendaftar. Sebagai contoh, untuk beasiswa UNAOC-EF Summer School tahun
2014 saja tidak kurang dari 120.000 pendaftar bertarung untuk
mendapatkan 75 kursi beasiswa kuliah musim panas di Amerika Serikat.
Untuk beasiswa Fostering ASEAN Future Leaders 2014 di Korea Selatan, ada
ratusan mahasiswa Indonesia berjuang mendapatkan 4 kuota untuk
Indonesia beasiswa belajar di Daejeon University, Korea Selatan. So,
bagi pejuang beasiswa gagal adalah hal biasa. Yang tidak biasa adalah
ketika kita mampu terus bangkit, memperbaiki diri kita, dan mencoba
mendaftarkan diri kembali pada kesempatan beasiswa selanjutnya.
Saya pernah bertemu dengan seseorang yang mengalami puluhan kali
kegagalan dalam mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Namun ia pantang
menyerah, hingga akhirnya dia mampu terbang ke beberapa negara seperti
Singapura, Jepang, Amerika Serikat, Italia, dan Swiss untuk mengikuti
pertukaran mahasiswa atau konferensi pemuda. Namun di balik semangat
pantang menyerah tersebut juga harus disertai semangat memperbaiki diri
(kemampuan akademik, kemampuan leadership, pengalaman, dan penguasaan
bahasa asing).
Pihak penyelenggara beasiswa ke luar negeri tidak
akan memberikan tiket gratis kepada sembarang orang. Hanya sosok-sosok
yang sesuai kriteria mereka sajalah yang akan diberikan beasiswa ke luar
negeri. Namun umumnya, sosok yang mereka cari adalah yang memiliki
catatan akademik bagus, memiliki kemampuan leadership yang bagus,
memiliki pengalaman yang cukup banyak, menguasai bidang yang mereka
tawarkan (sebagai contoh, apabila yang ditawarkan adalah beasiswa untuk
belajar mengenai pluralisme maka yang akan dipilih adalah orang-orang
yang memahami tentang pluralisme), memiliki kemampuan menulis yang
bagus, dan menguasai bahasa asing yang akan digunakan.
Hal
terakhir yang ingin saya sampaikan kepada kawan-kawan semua adalah,
terpilih mendapatkan beasiswa ke luar negeri bukan karena keberuntungan,
tapi karena kemampuan.
So, tunggu apa lagi ?
Kembangkan kemampuan kita dan raih beasiswa ke luar negeri!!!
Ahmad Rafuan.
7 September 2014.
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 September 2014
Selasa, 14 Januari 2014
1 Hari Bermakna
Dari
Percik Menuju Induk Semang, Mencari Identitas Kebaikan
Pukul
4 pagi aku sudah terbangun. Ada rasa malas untuk beranjak dari kasur karena
cuaca yang cukup dingin dan sejuk, terlebih teman-teman (peserta IYP laki-laki)
yang lain masih tertidur pulas. Saat bumi Salatiga sudah agak terang, sekitar
pukul 5 pagi, aku pun menjelajahi lingkungan sekitar Kampoeng Percik. Percik
berada di dataran tinggi, lereng gunung, yang asri dan memiliki keindahan murni,
sekitar 10 menit perjalanan darat dari kota Salatiga. Berada di Percik
seakan-akan sama dengan berada di sebuah kampung di dalam hutan. Suara tokek,
suara jangkrik, dapat didengar kapan saja. Hanya saja, keasrian dan kemurnian
lingkungan Percik terganggu dengan adanya bau tidak sedap yang berasal dari
pabrik pemotongan ayam, tepat di depan lingkungan Kampoeng Percik.
Kamis, 28 November 2013
Wisuda Dan Persinggahan Selanjutnya
Catatan Pinggiran Mahasiswa Akhir Yang Mencari Arah Tujuan
Foto
di atas menggambarkan suasana wisuda ke-XXI STAIN Palangka Raya
beberapa hari yang lalu. Suka cita menyelimuti orang-orang yang pada hari itu
resmi menyandang status alumni perguruan tinggi. Tak ketinggalan kerabat turut
senang atas pencapaian itu. Inilah ceremony yang terulang setiap
tahunnya. Disambut dengan penuh keriangan seakan perjuangan telah usai. Padahal
tidak! Justru ini adalah awal bagi kawan-kawan (atau kita semua) dalam menapak
jejak baru menelusuri jalan kehidupan. Wisuda adalah awal perjuangan. Awal perjuangan
untuk meneruskan pendidikan. Awal perjuangan untuk mencari pekerjaan. Atau awal
perjuangan menuju kehidupan yang diimpikan. Wisuda bukanlah akhir perjuangan!
Sabtu, 09 November 2013
Mahasiswa Palangka Raya Minim Kelompok Studi
Beberapa hari yang lalu saya sempat ditanya oleh seorang bapak yang
baru menetap di Palangka Raya. Sebelumnya beliau tinggal di Sintang,
Kalimantan Barat, hingga akhirnya pindah kerja ke Palangka Raya,
Kalimantan Tengah. Kami mengobrol banyak hal mulai dari topik yang
ringan hingga yang agak berat. Salah satu topik yang kami bahas, yang
berawal dari pertanyaan beliau tentang minat para mahasiswa di Palangka
Raya terhadap kelompok studi. Setelah berpikir sejenak, saya menjawab
beliau bahwa -sepengetahuan saya- masih sangat sedikit adanya kelompok
studi yang dilaksanakan oleh para mahasiswa. Khusus di kampus saya,
bahkan jumlah kelompok studi mahasiswa bisa dihitung dengan jari. Hal
ini cukup memprihatinkan, setidaknya itu yang beliau katakan. Sebab
nalar kritis mahasiswa tidak jarang lahir dari kelompok-kelompok studi
seperti ini. Dengan sedikitnya kelompok studi yang ada, mahasiswa akan
kekurangan wadah untuk mengasah daya kritis mereka akan suatu hal.
Saya teringat akan perjuangan saya dahulu dengan beberapa teman saya dalam membentuk kelompok studi. Saat saya masih mahasiswa baru, saya dan beberapa teman saya sempat beberapa kali membuat kelompok studi. Ada berbagai macam kelompok studi yang sempat saya cetuskan dengan teman yang berbeda. Mulai dari kelompok studi ilmu falak, hukum, politik, karya ilmiah, dan bahkan kelompok studi bahasa arab. Namun semua bernasib sama, tidak ada yang bertahan lama. Alasannya pun tidak jauh berbeda, sangat sedikit mahasiswa yang berminat untuk bergabung dengan kelompok studi kami. Meskipun sempat berjalan selama beberapa saat, kebosanan melanda kami dengan anggota yang hanya itu-itu saja.
Kecenderungan mahasiswa sekarang, khususnya di kampus saya, adalah kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Bahkan untuk sekedar pergi ke perpustakaan saja sangat sulit. Saya cukup tau tentang hal ini sebab saya pernah bekerja paruh waktu di perpustakaan kampus saya selama satu tahun. Perpustakaan yang cukup megah dengan koleksi buku yang lumayan banyak, namun pengunjung khususnya mahasiswa sangat sedikit. Hanya pada saat-saat tertentulah, seperti mengerjakan tugas atau skripsi, mereka datang ke perpustakaan. Kondisi seperti inilah yang menjadi realita mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Palangka Raya. Minim kelompok studi, akhirnya minim generasi muda yang kritis.
Saya teringat akan perjuangan saya dahulu dengan beberapa teman saya dalam membentuk kelompok studi. Saat saya masih mahasiswa baru, saya dan beberapa teman saya sempat beberapa kali membuat kelompok studi. Ada berbagai macam kelompok studi yang sempat saya cetuskan dengan teman yang berbeda. Mulai dari kelompok studi ilmu falak, hukum, politik, karya ilmiah, dan bahkan kelompok studi bahasa arab. Namun semua bernasib sama, tidak ada yang bertahan lama. Alasannya pun tidak jauh berbeda, sangat sedikit mahasiswa yang berminat untuk bergabung dengan kelompok studi kami. Meskipun sempat berjalan selama beberapa saat, kebosanan melanda kami dengan anggota yang hanya itu-itu saja.
Kecenderungan mahasiswa sekarang, khususnya di kampus saya, adalah kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Bahkan untuk sekedar pergi ke perpustakaan saja sangat sulit. Saya cukup tau tentang hal ini sebab saya pernah bekerja paruh waktu di perpustakaan kampus saya selama satu tahun. Perpustakaan yang cukup megah dengan koleksi buku yang lumayan banyak, namun pengunjung khususnya mahasiswa sangat sedikit. Hanya pada saat-saat tertentulah, seperti mengerjakan tugas atau skripsi, mereka datang ke perpustakaan. Kondisi seperti inilah yang menjadi realita mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Palangka Raya. Minim kelompok studi, akhirnya minim generasi muda yang kritis.
Jumat, 01 November 2013
Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi
Pasca
reformasi, kasus-kasus korupsi silih berganti terungkap ke publik. Bukan hanya
kasus korupsi yang terjadi pada masa pemerintahan orde baru, tapi juga kasus
korupsi yang terjadi setelah reformasi. Yang terbaru adalah terungkapnya kasus
korupsi pilkada Gunung Mas yang melibatkan Akil Mochtar, ketua Mahkamah
Konstitusi. Kasus korupsi ini adalah yang terburuk dalam sejarah, sebab
menyangkut lembaga sekaliber Mahkamah Konstitusi yang seharusnya menjadi
penegak konstitusi.
Korupsi adalah penyakit yang seakan
membudaya di Indonesia. Bukan hanya di pemerintahan, namun kasus korupsi dengan
skala yang lebih kecil juga terjadi hampir di berbagai aspek kehidupan
masyarakat. Korupsi terjadi disebabkan adanya keinginan dan kesempatan untuk
korupsi. Keinginan berkaitan dengan etika dan akhlak masing-masing individu,
sedangkan kesempatan menyangkut sistem. Untuk bebas dari korupsi, etika dan
sistem harus dibangun secara simultan.
Perbaikan sistem birokrasi
pemerintahan mutlak dibutuhkan saat ini. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi
pemerintah. Pengawasan terhadap sistem merupakan tanggung jawab bersama antara
masyarakat dan badan pengawas yang dibentuk pemerintah. Sistem birokrasi yang
bersih dan transparan akan meminimalisir kesempatan untuk korupsi.
Aspek lain yang juga menyebabkan
terjadinya korupsi adalah keinginan untuk korupsi. Keinginan berkaitan dengan
moral masing-masing individu. Disinilah letak pentingnya pendidikan anti
korupsi ditanamkan sejak dini. Nilai-nilai anti korupsi diajarkan mulai dari
lingkungan keluarga dan tempat tinggal. Kemudian pendidikan anti korupsi
diajarkan di setiap jenjang pendidikan dengan metode character building
atau pendidikan karakter. Dengan pendidikan anti korupsi akan lahir
generasi-generasi muda calon pemimpin masa depan yang memiliki jiwa anti
korupsi dan berintegritas.
Sudah selayaknya pemerintah
menjadikan pendidikan anti korupsi sebagai pendidikan wajib yang diajarkan di
seluruh sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. Menteri Pendidikan dapat
menyusun kurikulum yang mengakomodasinya. Hal ini sangat penting dan mendesak
mengingat sudah seringnya kasus korupsi yang terungkap di Indonesia.
Perbaikan sistem birokrasi
pemerintahan dan pendidikan anti korupsi merupakan dua hal yang sangat ampuh
dalam memberantas korupsi. Dengan adanya dua usaha tersebut yang dilakukan
berkesinambungan maka masa depan Indonesia akan bebas dari korupsi. Korupsi
adalah parasit bagi Indonesia, dan Indonesia akan lebih maju tanpa korupsi.
Bantu juga tandatangani petisi saya, untuk mendukung berlakunya pendidikan anti korupsi di seluruh jenjang pendidikan. Petisi ini juga sbeagai syarat seleksi menjadi Calon Anggota Parlemen Muda Indonesia perwakilan Kalimantan Tengah. Klik link ini https://www.change.org/id/petisi/gubernur-dan-dinas-pendidikan-provinsi-kalimantan-tengah-wajibkan-setiap-sekolah-dan-perguruan-tinggi-ajarkan-pelajaran-anti-korupsi-dan-integritas dan klik tandatanganiTulisan di atas merupakan tulisan yang saya buat dan saya ikutkan sebagai karangan argumentatif, kelas penelitian dosen bahasa Indonesia di kampus saya.
Jumat, 30 Agustus 2013
Mahasiswa dan Pengabdian Masyarakat - Untaian Kalimat Selepas Menjalani Masa Kuliah Kerja Nyata (KKN)
Mahasiswa sebagai ujung tombak pembangunan bangsa dituntut peka terhadap kebutuhan dalam berbagai hal terutama aspek sosial kemasyarakatan. Setelah penggemblengan di Perguruan Tinggi, sarjana-sarjana yang dicetak harus turut andil dalam memajukan kehidupan masyarakat. Inilah hakikat dari pendidikan, mengembalikan si terdidik kepada lingkungan. Pemerintah pun mengakomodir akan hal ini melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya pengabdian masyarakat yang diaplikasikan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Melalui KKN mahasiswa diajarkan bagaimana seni kehidupan bermasyarakat sebelum mereka benar-benar terjun secara keseluruhan setelah lulus nantinya.
Bagi segelintir mahasiswa, KKN adalah momok yang cukup menakutkan. Hidup di perkampungan yang cukup jauh dari keramaian, minim hiburan, dan kehidupan yang sederhana menghantui sebagian mahasiswa yang dewasa ini akrab dengan kehidupan glamor. Padahal ini salah besar. Menjadi abdi masyarakat memiliki kenikmatan tersendiri yang tidak akan bisa didapatkan di bangku kuliah. Kehidupan yang sungguh berbeda dari yang bisa dialami di kampus, setidaknya bagi anak kota yang belum pernah merasakan kehidupan di perkampungan yang cukup jauh.
Tingginya rasa sosial kemasyarakatan adalah hal yang sulit ditemui pada penduduk di kota. Semangat gotong royong dan persaudaraan masih sangat kental tumbuh dan hidup di masyarakat. KKN tidak sekedar membagikan pengetahuan dan pengalaman kepada masyarakat, tetapi kita bisa belajar banyak dari mereka. Ibarat simbiosis mutualisme. Bahkan hal-hal positif yang dapat dipetik dari kehidupan masyarakat pedesaan lebih banyak daripada hal-hal yang bisa kita berikan kepada mereka.
Melalui program KKN mahasiswa digodok untuk lebih memiliki rasa peka sosial, mengabdikan diri untuk bangsa. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan anggapan adanya gap pemisah antara kultur intelektual dan kultur masyarakat biasa, sehingga para sarjana yang dicetak nantinya menyadari akan pentingnya sumbangsih mereka terhadap masyarakat.
Terima kasih saya ucapkan atas berjuta inspirasi yang saya dapatkan, hasil dari kepulangan saya setelah menyelesaikan program KKN selama 2 bulan di desa Gandang. Bantuan dan dukungan yang saya peroleh baik saat saya masih KKN bahkan setelah menyelesaikannya yang selalu mengalir dari berbagai pihak merupakan stimulus bagi saya untuk terus berkarya demi bangsa ini. Aparat desa Gandang, Keluarga Besar Pak Abdullah, seluruh masyarakat desa Gandang dan kecamatan Maliku, Supervisor, serta teman-teman sejawat saya yang senantiasa menjadi tempat berbagi suka dan duka selama 2 bulan, anggota kelompok XX (DJ, Ono, Ririn, Yeni, Ana dan Ani) serta seluruh anggota Posko Maliku, saya ucapkan banyak apresiasi atas bantuan yang telah kalian berikan untuk saya terus mengembangkan diri. Gandang adalah rumah kedua bagi saya.
Pelukan hangat dari seorang yang terus berupaya memperbaiki diri
Ahmad Rafuan.
Ketua Kelompok XX KKN XXVI STAIN P. Raya
Minggu, 21 April 2013
Polemik Ujian Nasional Sebagai Penentu Kelulusan
Oleh Ahmad Rafuan
21 April 2013
Pekan Ujian Akhir Nasional bagi para pelajar sudah tiba. Lagi-lagi banyak cara yang ditempuh oleh generasi UN agar bisa berhasil dan dinyatakan lulus UN dengan nilai yang baik. Ada yang menggelar shalat hajat, meminta doa kepada para guru spiritual, ada yang mendatangi paranormal, dan tidak lupa belajar keras siang dan malam hingga lupa waktu. Tentu jauh hari sebelumnya mereka juga mengikuti les tambahan berbagai mata pelajaran yang akan diujikan. Tujuannya hanya satu, lulus Ujian Nasional!
21 April 2013
Pekan Ujian Akhir Nasional bagi para pelajar sudah tiba. Lagi-lagi banyak cara yang ditempuh oleh generasi UN agar bisa berhasil dan dinyatakan lulus UN dengan nilai yang baik. Ada yang menggelar shalat hajat, meminta doa kepada para guru spiritual, ada yang mendatangi paranormal, dan tidak lupa belajar keras siang dan malam hingga lupa waktu. Tentu jauh hari sebelumnya mereka juga mengikuti les tambahan berbagai mata pelajaran yang akan diujikan. Tujuannya hanya satu, lulus Ujian Nasional!
Sabtu, 13 April 2013
Problematika Menulis
Oleh Ahmad Rafuan
13 April 2013
Menulis adalah bentuk kreatifitas
menuangkan ide-ide dalam bentuk nyata. Menulis sebenarnya merupakan kegiatan
yang menyenangkan. Namun seringkali bagi beberapa orang menulis adalah sebuah
momok.Tidak kurang bagi saya sendiri juga demikian.
Kesulitan yang sering ditemui dalam
menulis adalah menorehkan kalimat pertama. Inilah yang membutuhkan waktu lama
untuk memikirkan kata apakah yang pantas untuk mengawali tulisan kita. Namun
sungguh apabila sudah menemukan kalimat awal, maka kalimat-kalimat selanjutnya
akan mengalir dengan sendirinya mengikuti alur pemikiran yang berkecamuk di
otak.
Kamis, 28 Maret 2013
Membumikan Falsafah Huma Betang
Oleh Ahmad Rafuan
28 Maret 2013
Indonesia bukan hanya nama dari sebuah negara. Lebih dari itu, Indonesia merupakan sebuah nama pemersatu dari bangsa yang terdiri dari bermacam-macam ras, suku, budaya, bahasa, dan bahkan agama. Bangsa Indonesia adalah bangsa unik yang memiliki tingkat kemajukan luar biasa. Dilihat dari aspek sejarah, tidak ada dominasi satu kelompok saja dalam usaha meraih kemerdekaan. Fakta historis yang menunjukkan betapa kuatnya persatuan bangsa pada masa itu.
28 Maret 2013
Indonesia bukan hanya nama dari sebuah negara. Lebih dari itu, Indonesia merupakan sebuah nama pemersatu dari bangsa yang terdiri dari bermacam-macam ras, suku, budaya, bahasa, dan bahkan agama. Bangsa Indonesia adalah bangsa unik yang memiliki tingkat kemajukan luar biasa. Dilihat dari aspek sejarah, tidak ada dominasi satu kelompok saja dalam usaha meraih kemerdekaan. Fakta historis yang menunjukkan betapa kuatnya persatuan bangsa pada masa itu.
Senin, 18 Maret 2013
Masyarakat Republik The-lie-Vision
Oleh Ahmad Rafuan
18 Maret 2013
Pagi hari kita disuguhi drama siraman rohani dengan air keruh oleh pencerita-pencerita yang handal bicara. Selanjutnya menu sarapan berita-berita kriminal, pembunuhan, tawuran, korupsi dan yang lainnya. Tak ketinggalan novel-novel kisah para artis negeri ini berbasis gosip yang memiliki episode panjang, yang tak jarang memakan waktu penyelesaian berlarut-larut, dengan tema kemewahan, hidup hedonis, dan yang lainnya. Sedikit lebih siang, rakyat Republik The-lie-Vision diberikan tontonan drama debat kusir nan kasar para politisi yang tidak cerdas bermuka memelas. Tak kalah mengasyikan sinetron-sinetron ajaib penuh khayalan yang tidak masuk akal menjadi santapan makan malam. Jadilah semua itu pengantar tidur kita, supaya bermimpi indah lebih indah dari realita. Bahkan tidak sedikit yang menginginkan mimpi menjadi nyata dan nyata hanyalah mimpi belaka di negeri Indonesia, Republik The-lie-Vision.
Pagi hari kita disuguhi drama siraman rohani dengan air keruh oleh pencerita-pencerita yang handal bicara. Selanjutnya menu sarapan berita-berita kriminal, pembunuhan, tawuran, korupsi dan yang lainnya. Tak ketinggalan novel-novel kisah para artis negeri ini berbasis gosip yang memiliki episode panjang, yang tak jarang memakan waktu penyelesaian berlarut-larut, dengan tema kemewahan, hidup hedonis, dan yang lainnya. Sedikit lebih siang, rakyat Republik The-lie-Vision diberikan tontonan drama debat kusir nan kasar para politisi yang tidak cerdas bermuka memelas. Tak kalah mengasyikan sinetron-sinetron ajaib penuh khayalan yang tidak masuk akal menjadi santapan makan malam. Jadilah semua itu pengantar tidur kita, supaya bermimpi indah lebih indah dari realita. Bahkan tidak sedikit yang menginginkan mimpi menjadi nyata dan nyata hanyalah mimpi belaka di negeri Indonesia, Republik The-lie-Vision.
Republik The-lie-Vision
Potret harian Republik The-lie-Vision (meminjam istilah Fahd Djibran dalam Buku Indonesia Jungkir Balik),
Pagi hari kita disuguhi drama siraman rohani dengan air keruh oleh pencerita-pencerita yang handal bicara.
Selanjutnya menu sarapan berita-berita kriminal, pembunuhan, tawuran, korupsi dan yang lainnya.
Tak ketinggalan novel-novel kisah para artis negeri ini berbasis gosip yang memiliki episode panjang, yang tak jarang memakan waktu penyelesaian berlarut-larut, dengan tema kemewahan, hidup hedonis, dan yang lainnya.
Sedikit lebih siang, rakyat Republik The-lie-Vision diberikan tontonan drama debat kusir nan kasar para politisi yang tidak cerdas bermuka memelas.
Tak kalah mengasyikan sinetron-sinetron ajaib penuh khayalan yang tidak masuk akal menjadi santapan makan malam.
Jadilah semua itu pengantar tidur kita, supaya bermimpi indah lebih indah dari realita. Bahkan tidak sedikit yang menginginkan mimpi menjadi nyata dan nyata hanyalah mimpi belaka di negeri Indonesia, Republik The-lie-Vision.
Pagi hari kita disuguhi drama siraman rohani dengan air keruh oleh pencerita-pencerita yang handal bicara.
Selanjutnya menu sarapan berita-berita kriminal, pembunuhan, tawuran, korupsi dan yang lainnya.
Tak ketinggalan novel-novel kisah para artis negeri ini berbasis gosip yang memiliki episode panjang, yang tak jarang memakan waktu penyelesaian berlarut-larut, dengan tema kemewahan, hidup hedonis, dan yang lainnya.
Sedikit lebih siang, rakyat Republik The-lie-Vision diberikan tontonan drama debat kusir nan kasar para politisi yang tidak cerdas bermuka memelas.
Tak kalah mengasyikan sinetron-sinetron ajaib penuh khayalan yang tidak masuk akal menjadi santapan makan malam.
Jadilah semua itu pengantar tidur kita, supaya bermimpi indah lebih indah dari realita. Bahkan tidak sedikit yang menginginkan mimpi menjadi nyata dan nyata hanyalah mimpi belaka di negeri Indonesia, Republik The-lie-Vision.
Langganan:
Postingan (Atom)


