Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Oktober 2014

Beasiswa Study of United State Institutes on Religious Pluralism


Bermimpilah Setinggi Langit, Apabila Kamu Jatuh Maka Kamu Akan Jatuh Di Antara Bintang-Bintang
Terbang Tinggi Meraih Mimpi
Mimpi dan usaha adalah dua komponen penting dalam menjalani kehidupan riil yang berkualitas. Bermimpi tanpa usaha sama saja kita hidup dalam khayalan semu. Usaha tanpa mimpi akan membuat kehidupan kita berjalan datar dan tanpa makna. Sangat banyak sekali orang yang hanya mau bermimpi tanpa mau berusaha. Padahal jika kita mampu bermimpi, berarti kita harus mampu meraihnya. Tidak sedikit pula orang yang berusaha keras namun tidak berpatokan kepada mimpi, sehingga hidupnya cenderung stagnan.

Pada kesempatan ini, saya akan berbagi cerita ketika mimpi dan usaha berkolaborasi menciptakan sebuah pencapaian hebat, yakni ketika mimpi itu mampu terwujud, bahkan melebihi ekspektasi awal. Sebuah kesempatan untuk belajar ke luar negeri, bersama dengan anak-anak muda hebat Indonesia, melalui program beasiswa Study of United States Institutes for Student Leaders on Religious Pluralism and Democracy in America, yang biasa kami singkat SUSI RPA.

Minggu, 07 September 2014

Mendapatkan Beasiswa Ke Luar Negeri

Saya sengaja tidak pernah mau menjawab secara gamblang pertanyaan teman-teman mahasiswa baru mengenai "Bagaimana caranya bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri dan mengikuti berbagai kegiatan sehingga bisa keliling ke beberapa daerah di Indonesia". Saya lebih suka ditanya mengenai proses yang saya tempuh sebelum saya mendapatkannya, dan terkadang pertanyaan mereka pun saya belokkan sehingga jawaban saya lebih banyak berbicara mengenai proses.

Mendapatkan beasiswa ke luar negeri dan mengikuti kegiatan-kegiatan nasional di berbagai daerah di seluruh Indonesia bukanlah sesuatu yang bisa diraih dengan satu dua hari proses. Proses tersebut tidak terlalu sulit untuk dilewati, tapi juga tidak terlalu mudah untuk dilakukan. Terkadang kita tidak ingin berproses dan hanya ingin sesuatu yang instan, sehingga kerap kali bertanya sesuatu yang langsung to the point "bagaimana caranya" atau "apa tipsnya". Seringkali pertanyaan tersebut saya jawab simpel "caranya adalah mendaftarkan diri". Ya, simpel. Cuma mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Namun proses untuk mendapatkannya tidak sesimpel itu.

Beasiswa ke luar negeri adalah suatu raihan yang prestisius namun tidak gratis alias ada harganya. Ya, ada harganya. Harga disini bukanlah sesuatu yang berbentuk materi atau uang. Yang dimaksud harga disini adalah semangat, keberanian dan pengorbanan. Semangat untuk selalu berusaha memperbaiki diri, berani untuk mendaftarkan diri, berani untuk berbeda, berani untuk ditertawakan karena cita-cita yang begitu tinggi, serta pengorbanan akan waktu, tenaga, dan pikiran. Di saat orang lain menghabiskan waktunya untuk foya-foya, jalan-jalan, nongkrong, main game, atau berpacaran, kita harus berani mengorbankan waktu kita yang berharga untuk membaca buku, berdiskusi, meningkatkan kemampuan bahasa asing, meningkatkan kemampuan menulis, mengikuti kegiatan-kegiatan positif, berorganisasi, mencari informasi beasiswa, dan mendaftarkan diri di setiap kesempatan beasiswa yang ditawarkan.

Pejuang beasiswa juga harus memiliki semangat tinggi dan pantang menyerah. Pantang menyerah ketika gagal meraih beasiswa ke luar negeri dalam kesempatan pertama, kedua, dan ketiga. Persaingan untuk mendapat beasiswa ke luar negeri itu cukup sengit, kadang-kadang kuota yang ditawarkan tidak sebanding dengan jumlah pendaftar. Sebagai contoh, untuk beasiswa UNAOC-EF Summer School tahun 2014 saja tidak kurang dari 120.000 pendaftar bertarung untuk mendapatkan 75 kursi beasiswa kuliah musim panas di Amerika Serikat. Untuk beasiswa Fostering ASEAN Future Leaders 2014 di Korea Selatan, ada ratusan mahasiswa Indonesia berjuang mendapatkan 4 kuota untuk Indonesia beasiswa belajar di Daejeon University, Korea Selatan. So, bagi pejuang beasiswa gagal adalah hal biasa. Yang tidak biasa adalah ketika kita mampu terus bangkit, memperbaiki diri kita, dan mencoba mendaftarkan diri kembali pada kesempatan beasiswa selanjutnya.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang mengalami puluhan kali kegagalan dalam mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Namun ia pantang menyerah, hingga akhirnya dia mampu terbang ke beberapa negara seperti Singapura, Jepang, Amerika Serikat, Italia, dan Swiss untuk mengikuti pertukaran mahasiswa atau konferensi pemuda. Namun di balik semangat pantang menyerah tersebut juga harus disertai semangat memperbaiki diri (kemampuan akademik, kemampuan leadership, pengalaman, dan penguasaan bahasa asing).

Pihak penyelenggara beasiswa ke luar negeri tidak akan memberikan tiket gratis kepada sembarang orang. Hanya sosok-sosok yang sesuai kriteria mereka sajalah yang akan diberikan beasiswa ke luar negeri. Namun umumnya, sosok yang mereka cari adalah yang memiliki catatan akademik bagus, memiliki kemampuan leadership yang bagus, memiliki pengalaman yang cukup banyak, menguasai bidang yang mereka tawarkan (sebagai contoh, apabila yang ditawarkan adalah beasiswa untuk belajar mengenai pluralisme maka yang akan dipilih adalah orang-orang yang memahami tentang pluralisme), memiliki kemampuan menulis yang bagus, dan menguasai bahasa asing yang akan digunakan.

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan kepada kawan-kawan semua adalah, terpilih mendapatkan beasiswa ke luar negeri bukan karena keberuntungan, tapi karena kemampuan.

So, tunggu apa lagi ?
Kembangkan kemampuan kita dan raih beasiswa ke luar negeri!!!

Ahmad Rafuan.

7 September 2014.

Kamis, 19 Juni 2014

Tour De Paris Van Java Part I

Bandung adalah salah satu kota tujuan yang ingin sekali kudatangi. Kota yang dikenal sebagai Paris-nya pulau Jawa bahkan Indonesia ini adalah kota yang menawarkan banyak hal, seperti keindahan, ke-metropolitan-an, keramaian, kemegahan, dan lain sebagainya. Satu kesempatan untuk mengunjungi kota ini pasti tidak akan kusia-siakan.

Jumat, 30 Mei 2014

Nothing To Lose

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETULUSAN.
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar tentang KEIKHLASAN.
Ketika kau harus lelah dan kecewa, maka saat itu kau sedang belajar tentang KESUNGGUHAN.
Ketika kau merasa sepi, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETANGGUHAN.

Senin, 03 Februari 2014

Mimi Yang Membuka Mata Kami


Aku sudah biasa menghabiskan weekend di rumah dengan membaca buku atau sekedar browsing internet. Kebetulan hari ini sedang ada gangguan koneksi internet di rumah sehingga membaca buku adalah alternatif terakhir untuk memanfaatkan waktu senggang. Dua hari yang lalu aku baru saja kembali dari aktifitas yang menguras tenaga dan pikiran selama seminggu penuh di Bekasi, sehingga aku tidak ingin membaca buku berat yang kembali menguras otak. Akhirnya kupilih buku bacaan inspiratif yang kudapatkan beberapa waktu yang lalu, Indonesia Berani. Lembar demi lembar kuhabiskan hingga aku sampai pada halaman yang berjudul Menggapai Asa Dalam Gulita.

Kamis, 28 November 2013

Wisuda Dan Persinggahan Selanjutnya


Catatan Pinggiran Mahasiswa Akhir Yang Mencari Arah Tujuan

Foto di atas menggambarkan suasana wisuda ke-XXI STAIN Palangka Raya beberapa hari yang lalu. Suka cita menyelimuti orang-orang yang pada hari itu resmi menyandang status alumni perguruan tinggi. Tak ketinggalan kerabat turut senang atas pencapaian itu. Inilah ceremony yang terulang setiap tahunnya. Disambut dengan penuh keriangan seakan perjuangan telah usai. Padahal tidak! Justru ini adalah awal bagi kawan-kawan (atau kita semua) dalam menapak jejak baru menelusuri jalan kehidupan. Wisuda adalah awal perjuangan. Awal perjuangan untuk meneruskan pendidikan. Awal perjuangan untuk mencari pekerjaan. Atau awal perjuangan menuju kehidupan yang diimpikan. Wisuda bukanlah akhir perjuangan!

Senin, 11 November 2013

Perjalanan Untuk Menyayangi Keberagaman


Interfaith Youth Pilgrimage (IYP) secara harfiah berarti ziarah para pemuda antar agama. Dengan tema 10 hari perjalanan penuh makna, IYP mengambil latar tempat di Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, dan Magelang. Aku merupakan salah satu peserta IYP yang dilaksanakan oleh pemenang AEIF 2013, sebuah kompetisi social project yang diselenggarakan dan didanai oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat, bekerja sama dengan ICRS (International Consortium for Religious Studies) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan berbagai pihak lainnya. Total ada 28 pemuda dari berbagai daerah di Indonesia yang menjadi peserta IYP setelah melalui tahapan seleksi dari 129 pendaftar.

Minggu, 10 November 2013

Pengalaman Pertama di Kota Keraton


Tiba di bandara Adisutjipto pada siang hari, inilah pengalaman pertamaku ke Yogyakarta. Setiap yang pertama pasti akan menggairahkan. Sekilas, bandara Adisutjipto merupakan bandara yang tidak bisa dikatakan besar, namun sangat indah. Berada di daerah yang secara geografis tidak datar, bandara Adisutjipto dikelilingi oleh pegunungan-pegunungan menawan. Saat mendarat di bandara kita bisa melihat keindahan pegunungan yang ada di Yogyakarta. Turun dari pesawat aku akhirnya berpisah dari keluarga Chinese yang duduk bersebelahan denganku saat di dalam pesawat dari Jakarta menuju Yogyakarta. Aku sangat menyukai anak mereka yang berumur sekitar 2 tahunan. Dia sangat lucu dan cute XD. Kami sempat berkenalan -meskipun akhirnya aku tidak dapat mengingat nama mereka, khususnya anak kecil tersebut- dan ini juga adalah pengalaman pertama mereka menginjakan kaki di kota keraton. Berbeda denganku yang datang ke Yogyakarta dalam rangka mengikuti program IYP, sedangkan mereka hanya sekedar melancong.

Sabtu, 09 November 2013

Hampir 9 Bulan Vakum, Petualangan Kembali Dimulai


Sudah hampir 9 bulan sejak terakhir kali saya bepergian keluar dari pulau Kalimantan. Waktu yang cukup lama dan dapat membuat lupa akan nikmatnya bepergian jauh menggunakan pesawat terbang. Ya, bagi saya ada sensasi tersendiri ketika bepergian jauh via transportasi udara, apalagi jika gratis! Besok akan menjadi petualangan berikutnya menjelajah bumi ini. Semoga keselamatan selalu menyertai saya dan perjalanan tersebut akan membawa manfaat bagi saya dan orang lain.

Meskipun tidak bisa dikatakan sering, di usia yang masih cukup muda, 22 tahun, saya sudah beberapa kali melakukan perjalanan keluar pulau Kalimantan. Perjalanan tersebut saya lakukan dalam rangka berpartisipasi dalam sebuah kegiatan. Ibarat pepatah sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui, momentum-momentum seperti ini kerap saya gunakan untuk menjelajah sebagian dari bumi Tuhan. Mumpung gratis, sebab perjalanan saya sebenarnya dibiayai oleh pihak lain atas keikutsertaan saya dalam beberapa kegiatan. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Tugas saya berpartisipasi dalam kegiatan terlaksana, dan hobi saya melancong terpenuhi.

Pernah suatu ketika saat saya menghadiri rakernas ismahi (ikatan senat mahasiswa hukum Indonesia) di Jakarta selama 3 hari bersama satu orang teman saya. Kami sengaja memperpanjang masa kami di Jakarta hingga 5 hari. Artinya kami mempunyai 2 hari free untuk kami pergunakan berkeliling kota Jakarta. Tidak kurang dari setengah bagian Provinsi DKI Jakarta telah kami jelajahi selama 2 hari tersebut. Dengan modal seadanya -karena memang hitung-hitungan uang yang diberikan kepada kami hanya cukup untuk 3 hari di Jakarta- kami melihat banyak sudut kota Jakarta dengan menggunakan busway atau bahkan berjalan kaki! Mungkin bagi sebagian orang apa yang kami lakukan cukup nekat. Kami sengaja mengirit pengeluaran agar uang yang kami miliki -yang diberikan kepada kami- cukup untuk biaya hidup selama 5 hari di Jakarta.

Mungkin bagi orang yang memiliki banyak uang perkara pergi ke luar daerah sesering mungkin tidak menjadi masalah. Namun bagi mahasiswa seperti saya -yang bahkan untuk makan sehari saja kesulitan- bisa keluar Pulau Kalimantan dengan gratis adalah suatu anugrah. Mencari program atau kegiatan yang mau meng-cover seluruh biaya pesertanya adalah satu-satunya jalan. Atau kalau tidak, dengan mencari sponsor yang mau berbaik hati memberikan bantuan materi untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di luar Kalimantan. Salah satu yang paling amazing bagi saya tentu saat saya dapat berpartisipasi dalam program beasiswa kuliah di Amerika Serikat selama 2 bulan dengan gratis. Meskipun begitu, program-program lainnya yang pernah saya ikuti di beberapa pulau yang ada di Indonesia yang memberikan biaya penuh kepada saya juga tak kalah menarik. Termasuk program Interfaith Youth Pilgrimage yang besok akan saya ikuti selama 10 hari di Yogyakarta. Ah, bagi saya yang penting bisa melancong ke daerah lain dengan gratis sekaligus mengikuti kegiatan yang bermanfaat bagi saya dan orang lain. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Mahasiswa Palangka Raya Minim Kelompok Studi

Beberapa hari yang lalu saya sempat ditanya oleh seorang bapak yang baru menetap di Palangka Raya. Sebelumnya beliau tinggal di Sintang, Kalimantan Barat, hingga akhirnya pindah kerja ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kami mengobrol banyak hal mulai dari topik yang ringan hingga yang agak berat. Salah satu topik yang kami bahas, yang berawal dari pertanyaan beliau tentang minat para mahasiswa di Palangka Raya terhadap kelompok studi. Setelah berpikir sejenak, saya menjawab beliau bahwa -sepengetahuan saya- masih sangat sedikit adanya kelompok studi yang dilaksanakan oleh para mahasiswa. Khusus di kampus saya, bahkan jumlah kelompok studi mahasiswa bisa dihitung dengan jari. Hal ini cukup memprihatinkan, setidaknya itu yang beliau katakan. Sebab nalar kritis mahasiswa tidak jarang lahir dari kelompok-kelompok studi seperti ini. Dengan sedikitnya kelompok studi yang ada, mahasiswa akan kekurangan wadah untuk mengasah daya kritis mereka akan suatu hal.
Saya teringat akan perjuangan saya dahulu dengan beberapa teman saya dalam membentuk kelompok studi. Saat saya masih mahasiswa baru, saya dan beberapa teman saya sempat beberapa kali membuat kelompok studi. Ada berbagai macam kelompok studi yang sempat saya cetuskan dengan teman yang berbeda. Mulai dari kelompok studi ilmu falak, hukum, politik, karya ilmiah, dan bahkan kelompok studi bahasa arab. Namun semua bernasib sama, tidak ada yang bertahan lama. Alasannya pun tidak jauh berbeda, sangat sedikit mahasiswa yang berminat untuk bergabung dengan kelompok studi kami. Meskipun sempat berjalan selama beberapa saat, kebosanan melanda kami dengan anggota yang hanya itu-itu saja.
Kecenderungan mahasiswa sekarang, khususnya di kampus saya, adalah kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Bahkan untuk sekedar pergi ke perpustakaan saja sangat sulit. Saya cukup tau tentang hal ini sebab saya pernah bekerja paruh waktu di perpustakaan kampus saya selama satu tahun. Perpustakaan yang cukup megah dengan koleksi buku yang lumayan banyak, namun pengunjung khususnya mahasiswa sangat sedikit. Hanya pada saat-saat tertentulah, seperti mengerjakan tugas atau skripsi, mereka datang ke perpustakaan. Kondisi seperti inilah yang menjadi realita mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Palangka Raya. Minim kelompok studi, akhirnya minim generasi muda yang kritis.

Jumat, 01 November 2013

Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi


Pasca reformasi, kasus-kasus korupsi silih berganti terungkap ke publik. Bukan hanya kasus korupsi yang terjadi pada masa pemerintahan orde baru, tapi juga kasus korupsi yang terjadi setelah reformasi. Yang terbaru adalah terungkapnya kasus korupsi pilkada Gunung Mas yang melibatkan Akil Mochtar, ketua Mahkamah Konstitusi. Kasus korupsi ini adalah yang terburuk dalam sejarah, sebab menyangkut lembaga sekaliber Mahkamah Konstitusi yang seharusnya menjadi penegak konstitusi.

Korupsi adalah penyakit yang seakan membudaya di Indonesia. Bukan hanya di pemerintahan, namun kasus korupsi dengan skala yang lebih kecil juga terjadi hampir di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Korupsi terjadi disebabkan adanya keinginan dan kesempatan untuk korupsi. Keinginan berkaitan dengan etika dan akhlak masing-masing individu, sedangkan kesempatan menyangkut sistem. Untuk bebas dari korupsi, etika dan sistem harus dibangun secara simultan.

Perbaikan sistem birokrasi pemerintahan mutlak dibutuhkan saat ini. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Pengawasan terhadap sistem merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan badan pengawas yang dibentuk pemerintah. Sistem birokrasi yang bersih dan transparan akan meminimalisir kesempatan untuk korupsi.

Aspek lain yang juga menyebabkan terjadinya korupsi adalah keinginan untuk korupsi. Keinginan berkaitan dengan moral masing-masing individu. Disinilah letak pentingnya pendidikan anti korupsi ditanamkan sejak dini. Nilai-nilai anti korupsi diajarkan mulai dari lingkungan keluarga dan tempat tinggal. Kemudian pendidikan anti korupsi diajarkan di setiap jenjang pendidikan dengan metode character building atau pendidikan karakter. Dengan pendidikan anti korupsi akan lahir generasi-generasi muda calon pemimpin masa depan yang memiliki jiwa anti korupsi dan berintegritas.

Sudah selayaknya pemerintah menjadikan pendidikan anti korupsi sebagai pendidikan wajib yang diajarkan di seluruh sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. Menteri Pendidikan dapat menyusun kurikulum yang mengakomodasinya. Hal ini sangat penting dan mendesak mengingat sudah seringnya kasus korupsi yang terungkap di Indonesia. 

Perbaikan sistem birokrasi pemerintahan dan pendidikan anti korupsi merupakan dua hal yang sangat ampuh dalam memberantas korupsi. Dengan adanya dua usaha tersebut yang dilakukan berkesinambungan maka masa depan Indonesia akan bebas dari korupsi. Korupsi adalah parasit bagi Indonesia, dan Indonesia akan lebih maju tanpa korupsi.

Tulisan di atas merupakan tulisan yang saya buat dan saya ikutkan sebagai karangan argumentatif, kelas penelitian dosen bahasa Indonesia di kampus saya.
Bantu juga tandatangani petisi saya, untuk mendukung berlakunya pendidikan anti korupsi di seluruh jenjang pendidikan. Petisi ini juga sbeagai syarat seleksi menjadi Calon Anggota Parlemen Muda Indonesia perwakilan Kalimantan Tengah. Klik link ini https://www.change.org/id/petisi/gubernur-dan-dinas-pendidikan-provinsi-kalimantan-tengah-wajibkan-setiap-sekolah-dan-perguruan-tinggi-ajarkan-pelajaran-anti-korupsi-dan-integritas dan klik tandatangani

Jumat, 30 Agustus 2013

Mahasiswa dan Pengabdian Masyarakat - Untaian Kalimat Selepas Menjalani Masa Kuliah Kerja Nyata (KKN)

 
            Mahasiswa sebagai ujung tombak pembangunan bangsa dituntut peka terhadap kebutuhan dalam berbagai hal terutama aspek sosial kemasyarakatan. Setelah penggemblengan di Perguruan Tinggi, sarjana-sarjana yang dicetak harus turut andil dalam memajukan kehidupan masyarakat. Inilah hakikat dari pendidikan, mengembalikan si terdidik kepada lingkungan. Pemerintah pun mengakomodir akan hal ini melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya pengabdian masyarakat yang diaplikasikan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Melalui KKN mahasiswa diajarkan bagaimana seni kehidupan bermasyarakat sebelum mereka benar-benar terjun secara keseluruhan setelah lulus nantinya.
            Bagi segelintir mahasiswa, KKN adalah momok yang cukup menakutkan. Hidup di perkampungan yang cukup jauh dari keramaian, minim hiburan, dan kehidupan yang sederhana menghantui sebagian mahasiswa yang dewasa ini akrab dengan kehidupan glamor. Padahal ini salah besar. Menjadi abdi masyarakat memiliki kenikmatan tersendiri yang tidak akan bisa didapatkan di bangku kuliah. Kehidupan yang sungguh berbeda dari yang bisa dialami di kampus, setidaknya bagi anak kota yang belum pernah merasakan kehidupan di perkampungan yang cukup jauh.
            Tingginya rasa sosial kemasyarakatan adalah hal yang sulit ditemui pada penduduk di kota. Semangat gotong royong dan persaudaraan masih sangat kental tumbuh dan hidup di masyarakat. KKN tidak sekedar membagikan pengetahuan dan pengalaman kepada masyarakat, tetapi kita bisa belajar banyak dari mereka. Ibarat simbiosis mutualisme. Bahkan hal-hal positif yang dapat dipetik dari kehidupan masyarakat pedesaan lebih banyak daripada hal-hal yang bisa kita berikan kepada mereka.
            Melalui program KKN mahasiswa digodok untuk lebih memiliki rasa peka sosial, mengabdikan diri untuk bangsa. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan anggapan adanya gap pemisah antara kultur intelektual dan kultur masyarakat biasa, sehingga para sarjana yang dicetak nantinya menyadari akan pentingnya sumbangsih mereka terhadap masyarakat.

            Terima kasih saya ucapkan atas berjuta inspirasi yang saya dapatkan, hasil dari kepulangan saya setelah menyelesaikan program KKN selama 2 bulan di desa Gandang. Bantuan dan dukungan yang saya peroleh baik saat saya masih KKN bahkan setelah menyelesaikannya yang selalu mengalir dari berbagai pihak merupakan stimulus bagi saya untuk terus berkarya demi bangsa ini. Aparat desa Gandang, Keluarga Besar Pak Abdullah, seluruh masyarakat desa Gandang dan kecamatan Maliku, Supervisor, serta teman-teman sejawat saya yang senantiasa menjadi tempat berbagi suka dan duka selama 2 bulan, anggota kelompok XX (DJ, Ono, Ririn, Yeni, Ana dan Ani) serta seluruh anggota Posko Maliku, saya ucapkan banyak apresiasi atas bantuan yang telah kalian berikan untuk saya terus mengembangkan diri. Gandang adalah rumah kedua bagi saya.

Pelukan hangat dari seorang yang terus berupaya memperbaiki diri
Ahmad Rafuan.
Ketua Kelompok XX KKN XXVI STAIN P. Raya

Minggu, 21 April 2013

Polemik Ujian Nasional Sebagai Penentu Kelulusan


Oleh Ahmad Rafuan
21 April 2013

            Pekan Ujian Akhir Nasional bagi para pelajar sudah tiba. Lagi-lagi banyak cara yang ditempuh oleh generasi UN agar bisa berhasil dan dinyatakan lulus UN dengan nilai yang baik. Ada yang menggelar shalat hajat, meminta doa kepada para guru spiritual, ada yang mendatangi paranormal, dan tidak lupa belajar keras siang dan malam hingga lupa waktu. Tentu jauh hari sebelumnya mereka juga mengikuti les tambahan berbagai mata pelajaran yang akan diujikan. Tujuannya hanya satu, lulus Ujian Nasional!