Tampilkan postingan dengan label Pemuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemuda. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 September 2014

Mendapatkan Beasiswa Ke Luar Negeri

Saya sengaja tidak pernah mau menjawab secara gamblang pertanyaan teman-teman mahasiswa baru mengenai "Bagaimana caranya bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri dan mengikuti berbagai kegiatan sehingga bisa keliling ke beberapa daerah di Indonesia". Saya lebih suka ditanya mengenai proses yang saya tempuh sebelum saya mendapatkannya, dan terkadang pertanyaan mereka pun saya belokkan sehingga jawaban saya lebih banyak berbicara mengenai proses.

Mendapatkan beasiswa ke luar negeri dan mengikuti kegiatan-kegiatan nasional di berbagai daerah di seluruh Indonesia bukanlah sesuatu yang bisa diraih dengan satu dua hari proses. Proses tersebut tidak terlalu sulit untuk dilewati, tapi juga tidak terlalu mudah untuk dilakukan. Terkadang kita tidak ingin berproses dan hanya ingin sesuatu yang instan, sehingga kerap kali bertanya sesuatu yang langsung to the point "bagaimana caranya" atau "apa tipsnya". Seringkali pertanyaan tersebut saya jawab simpel "caranya adalah mendaftarkan diri". Ya, simpel. Cuma mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Namun proses untuk mendapatkannya tidak sesimpel itu.

Beasiswa ke luar negeri adalah suatu raihan yang prestisius namun tidak gratis alias ada harganya. Ya, ada harganya. Harga disini bukanlah sesuatu yang berbentuk materi atau uang. Yang dimaksud harga disini adalah semangat, keberanian dan pengorbanan. Semangat untuk selalu berusaha memperbaiki diri, berani untuk mendaftarkan diri, berani untuk berbeda, berani untuk ditertawakan karena cita-cita yang begitu tinggi, serta pengorbanan akan waktu, tenaga, dan pikiran. Di saat orang lain menghabiskan waktunya untuk foya-foya, jalan-jalan, nongkrong, main game, atau berpacaran, kita harus berani mengorbankan waktu kita yang berharga untuk membaca buku, berdiskusi, meningkatkan kemampuan bahasa asing, meningkatkan kemampuan menulis, mengikuti kegiatan-kegiatan positif, berorganisasi, mencari informasi beasiswa, dan mendaftarkan diri di setiap kesempatan beasiswa yang ditawarkan.

Pejuang beasiswa juga harus memiliki semangat tinggi dan pantang menyerah. Pantang menyerah ketika gagal meraih beasiswa ke luar negeri dalam kesempatan pertama, kedua, dan ketiga. Persaingan untuk mendapat beasiswa ke luar negeri itu cukup sengit, kadang-kadang kuota yang ditawarkan tidak sebanding dengan jumlah pendaftar. Sebagai contoh, untuk beasiswa UNAOC-EF Summer School tahun 2014 saja tidak kurang dari 120.000 pendaftar bertarung untuk mendapatkan 75 kursi beasiswa kuliah musim panas di Amerika Serikat. Untuk beasiswa Fostering ASEAN Future Leaders 2014 di Korea Selatan, ada ratusan mahasiswa Indonesia berjuang mendapatkan 4 kuota untuk Indonesia beasiswa belajar di Daejeon University, Korea Selatan. So, bagi pejuang beasiswa gagal adalah hal biasa. Yang tidak biasa adalah ketika kita mampu terus bangkit, memperbaiki diri kita, dan mencoba mendaftarkan diri kembali pada kesempatan beasiswa selanjutnya.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang mengalami puluhan kali kegagalan dalam mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Namun ia pantang menyerah, hingga akhirnya dia mampu terbang ke beberapa negara seperti Singapura, Jepang, Amerika Serikat, Italia, dan Swiss untuk mengikuti pertukaran mahasiswa atau konferensi pemuda. Namun di balik semangat pantang menyerah tersebut juga harus disertai semangat memperbaiki diri (kemampuan akademik, kemampuan leadership, pengalaman, dan penguasaan bahasa asing).

Pihak penyelenggara beasiswa ke luar negeri tidak akan memberikan tiket gratis kepada sembarang orang. Hanya sosok-sosok yang sesuai kriteria mereka sajalah yang akan diberikan beasiswa ke luar negeri. Namun umumnya, sosok yang mereka cari adalah yang memiliki catatan akademik bagus, memiliki kemampuan leadership yang bagus, memiliki pengalaman yang cukup banyak, menguasai bidang yang mereka tawarkan (sebagai contoh, apabila yang ditawarkan adalah beasiswa untuk belajar mengenai pluralisme maka yang akan dipilih adalah orang-orang yang memahami tentang pluralisme), memiliki kemampuan menulis yang bagus, dan menguasai bahasa asing yang akan digunakan.

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan kepada kawan-kawan semua adalah, terpilih mendapatkan beasiswa ke luar negeri bukan karena keberuntungan, tapi karena kemampuan.

So, tunggu apa lagi ?
Kembangkan kemampuan kita dan raih beasiswa ke luar negeri!!!

Ahmad Rafuan.

7 September 2014.

Minggu, 03 Agustus 2014

Eksplorasi Petualangan

Wisma Salib Putih, Wisma 7 Gunung yang Terletak di Dataran Tinggi
Aku bangun tidak terlalu pagi hari itu. Bahkan aku masih merasa cukup ngantuk sebab aku begadang pada malam harinya. Untuk mengatasinya aku mencoba mencuci muka berulang kali. Aku tidak boleh bermalas-malasan. Aku tidak boleh membuang-buang waktu di tempat seindah Wisma Salib Putih, tempat aku menginap, hanya dengan tidur-tiduran saja. Aku harus melakukan ritual rutinan seorang petualang ketika menjejakkan kaki di tempat baru, mengambil foto sebanyak-banyaknya. Terlebih sekarang aku berada di sebuah tempat yang sangat indah dan banyak dikunjungi orang, Wisma Salib Putih.

Jumat, 30 Mei 2014

Nothing To Lose

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETULUSAN.
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar tentang KEIKHLASAN.
Ketika kau harus lelah dan kecewa, maka saat itu kau sedang belajar tentang KESUNGGUHAN.
Ketika kau merasa sepi, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETANGGUHAN.

Senin, 03 Februari 2014

Mimi Yang Membuka Mata Kami


Aku sudah biasa menghabiskan weekend di rumah dengan membaca buku atau sekedar browsing internet. Kebetulan hari ini sedang ada gangguan koneksi internet di rumah sehingga membaca buku adalah alternatif terakhir untuk memanfaatkan waktu senggang. Dua hari yang lalu aku baru saja kembali dari aktifitas yang menguras tenaga dan pikiran selama seminggu penuh di Bekasi, sehingga aku tidak ingin membaca buku berat yang kembali menguras otak. Akhirnya kupilih buku bacaan inspiratif yang kudapatkan beberapa waktu yang lalu, Indonesia Berani. Lembar demi lembar kuhabiskan hingga aku sampai pada halaman yang berjudul Menggapai Asa Dalam Gulita.

Rabu, 29 Januari 2014

Kenteng Dan Munculnya Bibit Kekeluargaan


Suara azan subuh terdengar bersahutan dari berbagai sudut dusun Kenteng. Kebanyakan suara azan tersebut berasal dari masjid di luar dusun Kenteng, sebab masjid di dusun Kenteng dapat dihitung dengan jari. Aku bangun seperti biasanya pada jam 4, sebelum waktu sholat subuh tiba. Aku tidak ingin membangunkan keluarga Pak Sutimin sehingga aku menghabiskan waktu selama 2 jam dengan membuat jurnal dan membaca buku di dalam kamar saja. Sekitar jam 6, baru aku keluar dari kamar setelah aku mendengar bunyi aktifitas di ruang tamu dan di dapur.

Selasa, 14 Januari 2014

1 Hari Bermakna


Dari Percik Menuju Induk Semang, Mencari Identitas Kebaikan

Pukul 4 pagi aku sudah terbangun. Ada rasa malas untuk beranjak dari kasur karena cuaca yang cukup dingin dan sejuk, terlebih teman-teman (peserta IYP laki-laki) yang lain masih tertidur pulas. Saat bumi Salatiga sudah agak terang, sekitar pukul 5 pagi, aku pun menjelajahi lingkungan sekitar Kampoeng Percik. Percik berada di dataran tinggi, lereng gunung, yang asri dan memiliki keindahan murni, sekitar 10 menit perjalanan darat dari kota Salatiga. Berada di Percik seakan-akan sama dengan berada di sebuah kampung di dalam hutan. Suara tokek, suara jangkrik, dapat didengar kapan saja. Hanya saja, keasrian dan kemurnian lingkungan Percik terganggu dengan adanya bau tidak sedap yang berasal dari pabrik pemotongan ayam, tepat di depan lingkungan Kampoeng Percik.

Jumat, 29 November 2013

Tangga Menuju Puncak Kedamaian


 Sunrise di Gunung Lawu
Pemandangan Desa Beruk, Lereng Gunung Lawu
Hari keempat dalam program IYP kami berada di desa Beruk, Karanganyar. Desa Beruk merupakan sebuah desa yang berada di lereng gunung Lawu. Desa ini terletak di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut, setengah dari puncak gunung Lawu yang memiliki ketinggian lebih dari 2.000 meter. Kami menginap di sebuah rumah kosong milik seorang mualaf asal Australia yang sekarang tinggal disana.

Kamis, 28 November 2013

Wisuda Dan Persinggahan Selanjutnya


Catatan Pinggiran Mahasiswa Akhir Yang Mencari Arah Tujuan

Foto di atas menggambarkan suasana wisuda ke-XXI STAIN Palangka Raya beberapa hari yang lalu. Suka cita menyelimuti orang-orang yang pada hari itu resmi menyandang status alumni perguruan tinggi. Tak ketinggalan kerabat turut senang atas pencapaian itu. Inilah ceremony yang terulang setiap tahunnya. Disambut dengan penuh keriangan seakan perjuangan telah usai. Padahal tidak! Justru ini adalah awal bagi kawan-kawan (atau kita semua) dalam menapak jejak baru menelusuri jalan kehidupan. Wisuda adalah awal perjuangan. Awal perjuangan untuk meneruskan pendidikan. Awal perjuangan untuk mencari pekerjaan. Atau awal perjuangan menuju kehidupan yang diimpikan. Wisuda bukanlah akhir perjuangan!

Rabu, 20 November 2013

Mencari Makna, Menjalin Kebersamaan


Peserta IYP berfoto bersama di depan Home Stay N53 UGM
Hari ketiga di Jogjakarta, sudah saatnya kami –peserta IYP- menjadi bangsa nomaden yang akan berpindah-pindah tempat. Pukul 8 pagi bis sudah siap mengantarkan kami ke beberapa tempat. Tujuan pertama kami adalah Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma (STAHD) di Klaten Jawa Tengah. Sebelum berangkat kami sempat mendiskusikan beberapa hal mengenai nasib Indonesia yang entah kenapa kemudian mengarah kepada pembahasan ajaran Hindu Dharma. Aku, Firman, dan Agus (penganut agama Hindu Dharma) berdiskusi secara santai diselingi guyonan-guyonan.

Senin, 18 November 2013

Perjalanan Untuk Mengenali dan Memahami


Peserta IYP berjalan menuju ICRS di gedung Pascasarjana UGM
Hari kedua di Jogja, aktifitas kami dalam program Interfaith Youth Pilgrimage dimulai. Pagi-pagi sekali kami berangkat dari home stay ke gedung pascasarjana UGM. Lingkungan pascasarjana UGM memiliki nilai arsitektur yang menarik. Saat memasuki lingkungan pascasarjana UGM kita akan disambut oleh sebuah jembatan yang menghubungkan dua sisi jalan yang dibelah oleh aliran sungai kecil -atau parit besar?-. Aku kurang ahli dalam menggambarkan betapa indahnya nilai-nilai arsitektur suatu tempat atau bangunan. Aku lebih condong menjadi seorang penikmat view yang indah dibandingkan pengamat atau pemerhati. Keindahan gedung pascasarjana UGM tentu tidak kami lewatkan begitu saja. Kami berfoto bersama di depan gedung tersebut.

Minggu, 17 November 2013

Memilih Menjadi Standar Atau Spesial ?


Hidup itu pilihan. Ingin sukses atau gagal itu pilihan. Tidak ada orang lain yang patut disalahkan atas kegagalan diri sendiri. Tidak ada yang berhak bertanggung jawab atas pilihan yang diambil selain diri sendiri. Orang yang gagal itu banyak. Sedangkan orang yang sukses itu sangat sedikit. Sekali lagi kita dituntut untuk memilih, menjadi gagal atau menjadi sukses. Tentu ada harga yang harus dibayar untuk menjadi sukses. Waktu, tenaga, dan pikiran harus menjadi korban agar meraih kesuksesan.

Senin, 11 November 2013

Perjalanan Untuk Menyayangi Keberagaman


Interfaith Youth Pilgrimage (IYP) secara harfiah berarti ziarah para pemuda antar agama. Dengan tema 10 hari perjalanan penuh makna, IYP mengambil latar tempat di Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, dan Magelang. Aku merupakan salah satu peserta IYP yang dilaksanakan oleh pemenang AEIF 2013, sebuah kompetisi social project yang diselenggarakan dan didanai oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat, bekerja sama dengan ICRS (International Consortium for Religious Studies) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan berbagai pihak lainnya. Total ada 28 pemuda dari berbagai daerah di Indonesia yang menjadi peserta IYP setelah melalui tahapan seleksi dari 129 pendaftar.