![]() |
| Wisma Salib Putih, Wisma 7 Gunung yang Terletak di Dataran Tinggi |
Tampilkan postingan dengan label Pengabdian Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengabdian Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Agustus 2014
Eksplorasi Petualangan
Jumat, 20 Juni 2014
Tour De Paris Van Java Part II
Minggu pagi yang cerah tak menyurutkan
keinginanku untuk bermalas-malasan di pagi hari. Setelah sehari sebelumnya
berjibaku dengan penyampaian Laporan Pertanggungjawaban Kepengurusan
Organisasi, dan kemudian sekedar berkumpul bersama teman-teman kepengurusan
sebelum akhirnya akan berpisah hingga malam hari. Kondisi fisik dan mental yang
kelelahan adalah alasan terkuat mengapa aku masih ingin terdekap dalam
kehangatan tempat tidur. Sebenarnya, hari ini adalah hari keberangkatanku
menuju Bandung. Jadwal penerbangan siang hari menuju Jakarta dan kemudian
dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Bandung. Untungnya tidak terlalu
banyak hal yang harus kupersiapkan menjelang keberangkatanku kali ini.
Kamis, 19 Juni 2014
Tour De Paris Van Java Part I
Bandung adalah salah satu kota
tujuan yang ingin sekali kudatangi. Kota yang dikenal sebagai Paris-nya pulau
Jawa bahkan Indonesia ini adalah kota yang menawarkan banyak hal, seperti
keindahan, ke-metropolitan-an, keramaian, kemegahan, dan lain sebagainya. Satu
kesempatan untuk mengunjungi kota ini pasti tidak akan kusia-siakan.
Selasa, 14 Januari 2014
1 Hari Bermakna
Dari
Percik Menuju Induk Semang, Mencari Identitas Kebaikan
Pukul
4 pagi aku sudah terbangun. Ada rasa malas untuk beranjak dari kasur karena
cuaca yang cukup dingin dan sejuk, terlebih teman-teman (peserta IYP laki-laki)
yang lain masih tertidur pulas. Saat bumi Salatiga sudah agak terang, sekitar
pukul 5 pagi, aku pun menjelajahi lingkungan sekitar Kampoeng Percik. Percik
berada di dataran tinggi, lereng gunung, yang asri dan memiliki keindahan murni,
sekitar 10 menit perjalanan darat dari kota Salatiga. Berada di Percik
seakan-akan sama dengan berada di sebuah kampung di dalam hutan. Suara tokek,
suara jangkrik, dapat didengar kapan saja. Hanya saja, keasrian dan kemurnian
lingkungan Percik terganggu dengan adanya bau tidak sedap yang berasal dari
pabrik pemotongan ayam, tepat di depan lingkungan Kampoeng Percik.
Jumat, 30 Agustus 2013
Mahasiswa dan Pengabdian Masyarakat - Untaian Kalimat Selepas Menjalani Masa Kuliah Kerja Nyata (KKN)
Mahasiswa sebagai ujung tombak pembangunan bangsa dituntut peka terhadap kebutuhan dalam berbagai hal terutama aspek sosial kemasyarakatan. Setelah penggemblengan di Perguruan Tinggi, sarjana-sarjana yang dicetak harus turut andil dalam memajukan kehidupan masyarakat. Inilah hakikat dari pendidikan, mengembalikan si terdidik kepada lingkungan. Pemerintah pun mengakomodir akan hal ini melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya pengabdian masyarakat yang diaplikasikan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Melalui KKN mahasiswa diajarkan bagaimana seni kehidupan bermasyarakat sebelum mereka benar-benar terjun secara keseluruhan setelah lulus nantinya.
Bagi segelintir mahasiswa, KKN adalah momok yang cukup menakutkan. Hidup di perkampungan yang cukup jauh dari keramaian, minim hiburan, dan kehidupan yang sederhana menghantui sebagian mahasiswa yang dewasa ini akrab dengan kehidupan glamor. Padahal ini salah besar. Menjadi abdi masyarakat memiliki kenikmatan tersendiri yang tidak akan bisa didapatkan di bangku kuliah. Kehidupan yang sungguh berbeda dari yang bisa dialami di kampus, setidaknya bagi anak kota yang belum pernah merasakan kehidupan di perkampungan yang cukup jauh.
Tingginya rasa sosial kemasyarakatan adalah hal yang sulit ditemui pada penduduk di kota. Semangat gotong royong dan persaudaraan masih sangat kental tumbuh dan hidup di masyarakat. KKN tidak sekedar membagikan pengetahuan dan pengalaman kepada masyarakat, tetapi kita bisa belajar banyak dari mereka. Ibarat simbiosis mutualisme. Bahkan hal-hal positif yang dapat dipetik dari kehidupan masyarakat pedesaan lebih banyak daripada hal-hal yang bisa kita berikan kepada mereka.
Melalui program KKN mahasiswa digodok untuk lebih memiliki rasa peka sosial, mengabdikan diri untuk bangsa. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan anggapan adanya gap pemisah antara kultur intelektual dan kultur masyarakat biasa, sehingga para sarjana yang dicetak nantinya menyadari akan pentingnya sumbangsih mereka terhadap masyarakat.
Terima kasih saya ucapkan atas berjuta inspirasi yang saya dapatkan, hasil dari kepulangan saya setelah menyelesaikan program KKN selama 2 bulan di desa Gandang. Bantuan dan dukungan yang saya peroleh baik saat saya masih KKN bahkan setelah menyelesaikannya yang selalu mengalir dari berbagai pihak merupakan stimulus bagi saya untuk terus berkarya demi bangsa ini. Aparat desa Gandang, Keluarga Besar Pak Abdullah, seluruh masyarakat desa Gandang dan kecamatan Maliku, Supervisor, serta teman-teman sejawat saya yang senantiasa menjadi tempat berbagi suka dan duka selama 2 bulan, anggota kelompok XX (DJ, Ono, Ririn, Yeni, Ana dan Ani) serta seluruh anggota Posko Maliku, saya ucapkan banyak apresiasi atas bantuan yang telah kalian berikan untuk saya terus mengembangkan diri. Gandang adalah rumah kedua bagi saya.
Pelukan hangat dari seorang yang terus berupaya memperbaiki diri
Ahmad Rafuan.
Ketua Kelompok XX KKN XXVI STAIN P. Raya
Langganan:
Postingan (Atom)
