Sabtu, 09 November 2013
Hampir 9 Bulan Vakum, Petualangan Kembali Dimulai
Sudah hampir 9 bulan sejak terakhir kali saya bepergian keluar dari pulau Kalimantan. Waktu yang cukup lama dan dapat membuat lupa akan nikmatnya bepergian jauh menggunakan pesawat terbang. Ya, bagi saya ada sensasi tersendiri ketika bepergian jauh via transportasi udara, apalagi jika gratis! Besok akan menjadi petualangan berikutnya menjelajah bumi ini. Semoga keselamatan selalu menyertai saya dan perjalanan tersebut akan membawa manfaat bagi saya dan orang lain.
Meskipun tidak bisa dikatakan sering, di usia yang masih cukup muda, 22 tahun, saya sudah beberapa kali melakukan perjalanan keluar pulau Kalimantan. Perjalanan tersebut saya lakukan dalam rangka berpartisipasi dalam sebuah kegiatan. Ibarat pepatah sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui, momentum-momentum seperti ini kerap saya gunakan untuk menjelajah sebagian dari bumi Tuhan. Mumpung gratis, sebab perjalanan saya sebenarnya dibiayai oleh pihak lain atas keikutsertaan saya dalam beberapa kegiatan. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Tugas saya berpartisipasi dalam kegiatan terlaksana, dan hobi saya melancong terpenuhi.
Pernah suatu ketika saat saya menghadiri rakernas ismahi (ikatan senat mahasiswa hukum Indonesia) di Jakarta selama 3 hari bersama satu orang teman saya. Kami sengaja memperpanjang masa kami di Jakarta hingga 5 hari. Artinya kami mempunyai 2 hari free untuk kami pergunakan berkeliling kota Jakarta. Tidak kurang dari setengah bagian Provinsi DKI Jakarta telah kami jelajahi selama 2 hari tersebut. Dengan modal seadanya -karena memang hitung-hitungan uang yang diberikan kepada kami hanya cukup untuk 3 hari di Jakarta- kami melihat banyak sudut kota Jakarta dengan menggunakan busway atau bahkan berjalan kaki! Mungkin bagi sebagian orang apa yang kami lakukan cukup nekat. Kami sengaja mengirit pengeluaran agar uang yang kami miliki -yang diberikan kepada kami- cukup untuk biaya hidup selama 5 hari di Jakarta.
Mungkin bagi orang yang memiliki banyak uang perkara pergi ke luar daerah sesering mungkin tidak menjadi masalah. Namun bagi mahasiswa seperti saya -yang bahkan untuk makan sehari saja kesulitan- bisa keluar Pulau Kalimantan dengan gratis adalah suatu anugrah. Mencari program atau kegiatan yang mau meng-cover seluruh biaya pesertanya adalah satu-satunya jalan. Atau kalau tidak, dengan mencari sponsor yang mau berbaik hati memberikan bantuan materi untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di luar Kalimantan. Salah satu yang paling amazing bagi saya tentu saat saya dapat berpartisipasi dalam program beasiswa kuliah di Amerika Serikat selama 2 bulan dengan gratis. Meskipun begitu, program-program lainnya yang pernah saya ikuti di beberapa pulau yang ada di Indonesia yang memberikan biaya penuh kepada saya juga tak kalah menarik. Termasuk program Interfaith Youth Pilgrimage yang besok akan saya ikuti selama 10 hari di Yogyakarta. Ah, bagi saya yang penting bisa melancong ke daerah lain dengan gratis sekaligus mengikuti kegiatan yang bermanfaat bagi saya dan orang lain. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Mahasiswa Palangka Raya Minim Kelompok Studi
Beberapa hari yang lalu saya sempat ditanya oleh seorang bapak yang
baru menetap di Palangka Raya. Sebelumnya beliau tinggal di Sintang,
Kalimantan Barat, hingga akhirnya pindah kerja ke Palangka Raya,
Kalimantan Tengah. Kami mengobrol banyak hal mulai dari topik yang
ringan hingga yang agak berat. Salah satu topik yang kami bahas, yang
berawal dari pertanyaan beliau tentang minat para mahasiswa di Palangka
Raya terhadap kelompok studi. Setelah berpikir sejenak, saya menjawab
beliau bahwa -sepengetahuan saya- masih sangat sedikit adanya kelompok
studi yang dilaksanakan oleh para mahasiswa. Khusus di kampus saya,
bahkan jumlah kelompok studi mahasiswa bisa dihitung dengan jari. Hal
ini cukup memprihatinkan, setidaknya itu yang beliau katakan. Sebab
nalar kritis mahasiswa tidak jarang lahir dari kelompok-kelompok studi
seperti ini. Dengan sedikitnya kelompok studi yang ada, mahasiswa akan
kekurangan wadah untuk mengasah daya kritis mereka akan suatu hal.
Saya teringat akan perjuangan saya dahulu dengan beberapa teman saya dalam membentuk kelompok studi. Saat saya masih mahasiswa baru, saya dan beberapa teman saya sempat beberapa kali membuat kelompok studi. Ada berbagai macam kelompok studi yang sempat saya cetuskan dengan teman yang berbeda. Mulai dari kelompok studi ilmu falak, hukum, politik, karya ilmiah, dan bahkan kelompok studi bahasa arab. Namun semua bernasib sama, tidak ada yang bertahan lama. Alasannya pun tidak jauh berbeda, sangat sedikit mahasiswa yang berminat untuk bergabung dengan kelompok studi kami. Meskipun sempat berjalan selama beberapa saat, kebosanan melanda kami dengan anggota yang hanya itu-itu saja.
Kecenderungan mahasiswa sekarang, khususnya di kampus saya, adalah kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Bahkan untuk sekedar pergi ke perpustakaan saja sangat sulit. Saya cukup tau tentang hal ini sebab saya pernah bekerja paruh waktu di perpustakaan kampus saya selama satu tahun. Perpustakaan yang cukup megah dengan koleksi buku yang lumayan banyak, namun pengunjung khususnya mahasiswa sangat sedikit. Hanya pada saat-saat tertentulah, seperti mengerjakan tugas atau skripsi, mereka datang ke perpustakaan. Kondisi seperti inilah yang menjadi realita mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Palangka Raya. Minim kelompok studi, akhirnya minim generasi muda yang kritis.
Saya teringat akan perjuangan saya dahulu dengan beberapa teman saya dalam membentuk kelompok studi. Saat saya masih mahasiswa baru, saya dan beberapa teman saya sempat beberapa kali membuat kelompok studi. Ada berbagai macam kelompok studi yang sempat saya cetuskan dengan teman yang berbeda. Mulai dari kelompok studi ilmu falak, hukum, politik, karya ilmiah, dan bahkan kelompok studi bahasa arab. Namun semua bernasib sama, tidak ada yang bertahan lama. Alasannya pun tidak jauh berbeda, sangat sedikit mahasiswa yang berminat untuk bergabung dengan kelompok studi kami. Meskipun sempat berjalan selama beberapa saat, kebosanan melanda kami dengan anggota yang hanya itu-itu saja.
Kecenderungan mahasiswa sekarang, khususnya di kampus saya, adalah kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Bahkan untuk sekedar pergi ke perpustakaan saja sangat sulit. Saya cukup tau tentang hal ini sebab saya pernah bekerja paruh waktu di perpustakaan kampus saya selama satu tahun. Perpustakaan yang cukup megah dengan koleksi buku yang lumayan banyak, namun pengunjung khususnya mahasiswa sangat sedikit. Hanya pada saat-saat tertentulah, seperti mengerjakan tugas atau skripsi, mereka datang ke perpustakaan. Kondisi seperti inilah yang menjadi realita mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Palangka Raya. Minim kelompok studi, akhirnya minim generasi muda yang kritis.
Jumat, 01 November 2013
Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi
Pasca
reformasi, kasus-kasus korupsi silih berganti terungkap ke publik. Bukan hanya
kasus korupsi yang terjadi pada masa pemerintahan orde baru, tapi juga kasus
korupsi yang terjadi setelah reformasi. Yang terbaru adalah terungkapnya kasus
korupsi pilkada Gunung Mas yang melibatkan Akil Mochtar, ketua Mahkamah
Konstitusi. Kasus korupsi ini adalah yang terburuk dalam sejarah, sebab
menyangkut lembaga sekaliber Mahkamah Konstitusi yang seharusnya menjadi
penegak konstitusi.
Korupsi adalah penyakit yang seakan
membudaya di Indonesia. Bukan hanya di pemerintahan, namun kasus korupsi dengan
skala yang lebih kecil juga terjadi hampir di berbagai aspek kehidupan
masyarakat. Korupsi terjadi disebabkan adanya keinginan dan kesempatan untuk
korupsi. Keinginan berkaitan dengan etika dan akhlak masing-masing individu,
sedangkan kesempatan menyangkut sistem. Untuk bebas dari korupsi, etika dan
sistem harus dibangun secara simultan.
Perbaikan sistem birokrasi
pemerintahan mutlak dibutuhkan saat ini. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi
pemerintah. Pengawasan terhadap sistem merupakan tanggung jawab bersama antara
masyarakat dan badan pengawas yang dibentuk pemerintah. Sistem birokrasi yang
bersih dan transparan akan meminimalisir kesempatan untuk korupsi.
Aspek lain yang juga menyebabkan
terjadinya korupsi adalah keinginan untuk korupsi. Keinginan berkaitan dengan
moral masing-masing individu. Disinilah letak pentingnya pendidikan anti
korupsi ditanamkan sejak dini. Nilai-nilai anti korupsi diajarkan mulai dari
lingkungan keluarga dan tempat tinggal. Kemudian pendidikan anti korupsi
diajarkan di setiap jenjang pendidikan dengan metode character building
atau pendidikan karakter. Dengan pendidikan anti korupsi akan lahir
generasi-generasi muda calon pemimpin masa depan yang memiliki jiwa anti
korupsi dan berintegritas.
Sudah selayaknya pemerintah
menjadikan pendidikan anti korupsi sebagai pendidikan wajib yang diajarkan di
seluruh sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. Menteri Pendidikan dapat
menyusun kurikulum yang mengakomodasinya. Hal ini sangat penting dan mendesak
mengingat sudah seringnya kasus korupsi yang terungkap di Indonesia.
Perbaikan sistem birokrasi
pemerintahan dan pendidikan anti korupsi merupakan dua hal yang sangat ampuh
dalam memberantas korupsi. Dengan adanya dua usaha tersebut yang dilakukan
berkesinambungan maka masa depan Indonesia akan bebas dari korupsi. Korupsi
adalah parasit bagi Indonesia, dan Indonesia akan lebih maju tanpa korupsi.
Bantu juga tandatangani petisi saya, untuk mendukung berlakunya pendidikan anti korupsi di seluruh jenjang pendidikan. Petisi ini juga sbeagai syarat seleksi menjadi Calon Anggota Parlemen Muda Indonesia perwakilan Kalimantan Tengah. Klik link ini https://www.change.org/id/petisi/gubernur-dan-dinas-pendidikan-provinsi-kalimantan-tengah-wajibkan-setiap-sekolah-dan-perguruan-tinggi-ajarkan-pelajaran-anti-korupsi-dan-integritas dan klik tandatanganiTulisan di atas merupakan tulisan yang saya buat dan saya ikutkan sebagai karangan argumentatif, kelas penelitian dosen bahasa Indonesia di kampus saya.
Jumat, 30 Agustus 2013
Mahasiswa dan Pengabdian Masyarakat - Untaian Kalimat Selepas Menjalani Masa Kuliah Kerja Nyata (KKN)
Mahasiswa sebagai ujung tombak pembangunan bangsa dituntut peka terhadap kebutuhan dalam berbagai hal terutama aspek sosial kemasyarakatan. Setelah penggemblengan di Perguruan Tinggi, sarjana-sarjana yang dicetak harus turut andil dalam memajukan kehidupan masyarakat. Inilah hakikat dari pendidikan, mengembalikan si terdidik kepada lingkungan. Pemerintah pun mengakomodir akan hal ini melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya pengabdian masyarakat yang diaplikasikan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Melalui KKN mahasiswa diajarkan bagaimana seni kehidupan bermasyarakat sebelum mereka benar-benar terjun secara keseluruhan setelah lulus nantinya.
Bagi segelintir mahasiswa, KKN adalah momok yang cukup menakutkan. Hidup di perkampungan yang cukup jauh dari keramaian, minim hiburan, dan kehidupan yang sederhana menghantui sebagian mahasiswa yang dewasa ini akrab dengan kehidupan glamor. Padahal ini salah besar. Menjadi abdi masyarakat memiliki kenikmatan tersendiri yang tidak akan bisa didapatkan di bangku kuliah. Kehidupan yang sungguh berbeda dari yang bisa dialami di kampus, setidaknya bagi anak kota yang belum pernah merasakan kehidupan di perkampungan yang cukup jauh.
Tingginya rasa sosial kemasyarakatan adalah hal yang sulit ditemui pada penduduk di kota. Semangat gotong royong dan persaudaraan masih sangat kental tumbuh dan hidup di masyarakat. KKN tidak sekedar membagikan pengetahuan dan pengalaman kepada masyarakat, tetapi kita bisa belajar banyak dari mereka. Ibarat simbiosis mutualisme. Bahkan hal-hal positif yang dapat dipetik dari kehidupan masyarakat pedesaan lebih banyak daripada hal-hal yang bisa kita berikan kepada mereka.
Melalui program KKN mahasiswa digodok untuk lebih memiliki rasa peka sosial, mengabdikan diri untuk bangsa. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan anggapan adanya gap pemisah antara kultur intelektual dan kultur masyarakat biasa, sehingga para sarjana yang dicetak nantinya menyadari akan pentingnya sumbangsih mereka terhadap masyarakat.
Terima kasih saya ucapkan atas berjuta inspirasi yang saya dapatkan, hasil dari kepulangan saya setelah menyelesaikan program KKN selama 2 bulan di desa Gandang. Bantuan dan dukungan yang saya peroleh baik saat saya masih KKN bahkan setelah menyelesaikannya yang selalu mengalir dari berbagai pihak merupakan stimulus bagi saya untuk terus berkarya demi bangsa ini. Aparat desa Gandang, Keluarga Besar Pak Abdullah, seluruh masyarakat desa Gandang dan kecamatan Maliku, Supervisor, serta teman-teman sejawat saya yang senantiasa menjadi tempat berbagi suka dan duka selama 2 bulan, anggota kelompok XX (DJ, Ono, Ririn, Yeni, Ana dan Ani) serta seluruh anggota Posko Maliku, saya ucapkan banyak apresiasi atas bantuan yang telah kalian berikan untuk saya terus mengembangkan diri. Gandang adalah rumah kedua bagi saya.
Pelukan hangat dari seorang yang terus berupaya memperbaiki diri
Ahmad Rafuan.
Ketua Kelompok XX KKN XXVI STAIN P. Raya
Sabtu, 04 Mei 2013
Jumat, 03 Mei 2013
Beasiswa Monbukagakusho
Pendaftaran untuk keberangkatan tahun 2014 telah dibuka pada 1 Mei 2013 dan akan ditutup pada tanggal 14 Juni 2013.
Program
ini ditujukan untuk siswa-siswi Indonesia lulusan Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas (SLTA) untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas (S-1),
College of Technology (D-3) atau Professional Training College (D-2) di Jepang mulai tahun akademik 2014 (April 2014).
Pelamar hanya bisa mendaftar 1 (satu) program dari S-1, D-3, atau D-2.
Langganan:
Postingan (Atom)



